Pages

Labels

Labels

Tampilkan postingan dengan label Cerita manis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita manis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Refleksi satu semester



Ya Allah sudah sejauh ini aku melangkah, rasanya baru kemarin wisuda, mengurus keberangkatan dan perjalanan yang cukup sulit yogya-malasyia-thailand, tapi hari ini 1 semester sudah berakhir.

Benar, rasanya baru kemarin toga wisuda kukenakan, sibuk memutuskan antara mau kuliah dan kerja, daftar ngajar ke thailand, sibuk buat pasport dan segala macam syarat untuk ke thailand, sampai akhirnya di 30 april pesawat dari yogya ke malasyia tiba, lalu berlanjut perjalanan bus yang cukup melelahkan dari malasyia ke thailand.
Benar, rasanya baru kemarin minta izin pada ibu dan keluarga, pamit dan mengucapkan salam perpisahan dengan orang-orang yang kukenal, meninggalkan kenangan di kota yogyakarta, dan menangis diam-diam di pesawat, ah betapa jalan hidup tak bisa dibayangkan nantinya, dan saat ini langkahku sudah begitu jauh Ya Allah, sudah sejauh ini ternyata.
Kulalui hari-hari yang cukup sulit, senang dan membahagiakan sejauh ini, bertemu orang-orang baru, mengajar murid-murid yang bermacam ragam, dan banyak hal yang terjadi tanpa direncanakan, ah betapa langkahku sudah sejauh ini tanpa kuduga, Ya Allah berkat nikmatMu aku masih sehat dan bisa merasakan jarak langkah yang kutempuh saat ini.
Aku tidak tahu bagaimana nantinya jalanku, bagaimana nantinya perjalanan yang kulalui, senangkah, sedihkah, sulitkah, aku tak pernah tahu, tapi aku ingin melewatinya, aku ingin melewati semuanya dengan baik, aku ingin memberikan yang terbaik dan bisa membuat cerita yang baik pula untuk anak-anakku nantinya.
Ya Allah, seberat apapun nanti aku ingin melewatinya, sebab itu bimbing aku selalu agar pandai bersyukur dan hanya berharap apapun dariMu..




26 september 2014. 
Pakpayoon. 

Selasa, 19 Agustus 2014

Hidupmu milikmu nak




Beberapa hari yang lalu saya menelpon orang yang paling saya rindukan, ibu, yah sebab rindu yang sudah menggunung akhirnya saya menelpon beliau. Ibu, tempat saya menceritakan segala hal dalam hidup, tentang hati, tentang kehidupan saya saat ini, apa yang saya rasakan, saya biasa menceritakannya pada ibu, sebab buat saya ibu orang yang paling bisa mengerti walaupun terkadang terlalu cerewet dan banyak melarang, but i know itu pasti untuk kebaikan saya.
Beberapa minggu lalu untuk pertama kalinya saya jatuh sakit di negri antah barantah ini, demam, kepala pusing, batuk dan muntah-muntah, sakit yang sangat jarang saya alami, dan rasanya sangat tidak enak sekali. Sudah sering setiapkali saya jatuh sakit ibu pasti akan rewel melarang makan ini itu dan memanjakan saya, tapi disini, dengan teman-teman yang punya kesibukan akhirnya saya merasa sakit kali ini benar-benar menyedihkan.
Sifat manja saya pun muncul, saya akhirnya bercerita pada ibu bahwa saya sakit tapi hari saat saya menelpon beliau perasaan dan tubuh saya sudah lumayan membaik, dan betul saja ibu pun marah-marah dan menasihati banyak hal, jangan makan pedaslah, jangan makan eslah, padahal makanan pedas dan es adalah makanan yang paling sering saya konsumsi dan saya menyukainya. Dan yeah, sampai hari ini batuk saya tidak juga sembuh, suara semakin hari makin menghilang rasanya sakit sekali tenggorokan, jangan tanya soal obat, sebab obat dari rumah sakit tidak saya minum, hehe..
Tapi yang paling penting bukan itu, ada pesan yang ibu saya sampaikan di sela-sela rewelnya beliau menasihati anak gadisnya yang super keras kepala ini. Begini kata-kata beliau yang sudah saya modifikasi sedikit sebab ibu saya menyampaikan dengan bahasa asal saya, sunda, jadi yah saya khawatir tidak dimengerti, hehe..
Neng, sekarang ini neng bukan anak kecil lagi, jarak juga bukan seperti jogja-bogor kayak dulu, hidup di negri orang jangan pikir enak-enaknya aja, banyak hal yang bisa membuat neng jadi lebih dewasa dan mandiri kalau neng mau belajar.
Kalau kangen rumah jangan cengeng nangis-nangis segala, udah tahu jauh dari negri sendiri belajarlah jaga kesehatan biar gak sakit, kalau sakit ya resiko gak ada yang urus, semakin besar usia seseorang dia sudah harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri, ngurus diri sendiri, sebab hidupmu adalah milikmu neng, orangtua, umi cuma mengantarkan kamu dan didik kamu sampai kamu jadi orang yang paham arti tanggungjawab hidup.
Saya pun heran kok malam itu ibu saya sangat bijak sekali, entahlah apa sebab anaknya semakin besar dan usia ibu saya pun semakin menua dan matang atau apalah saya tidak tahu, tapi yang jelas kata-kata beliau terngiang-ngiang terus dalam pikiran saya, sebab hari ini saya masih jadi anak yang tidak bertanggungjawab pada dirinya sendiri.
Umi, saya masih harus belajar, terimakasih untuk nasihatnya..
Umi, tunggu oktober ya, iam coming, :-*




Pakpayoon, 19 Agustus 2014

Minggu, 17 Agustus 2014

Menulislah, sebab menulis membuatmu merdeka



Merdeka, Merdeka, Merdeka.. !!!!
69 Tahun yang lalu para pejuang kemerdekaan bersusah payah mengorbankan segala miliknya demi tercapainya kemerdekaan, akhirnya kita merdeka, bendera merah putih karya fenomenal ibu fatmawati sudah dikibarkan, berita kemerdekaan pun disebarluaskan melalui radio dan surat kabar yang ada, akhirnya, yah akhirnya kita merdeka dari penjajahan secara fisik.
Hari ini, di tahun yang penuh kemelut, kemelut yang tidak ada akhirnya, sengketa pilpres, HAM, hukum, keadilan, ekonomi, pendidikan, sampai yang terbaru tentang kelompok yang menamakan dirinya ISIS, hari ini perjuangan amat berat tapi orang-orang yang peduli dan mau mengorbankan segala miliknya sudah sangat langka, tidak ada pejabat yang diasingkan, tidak ada pejabat yang di bunuh di lubang buaya, tidak ada yang sampai berdarah-darah untuk memperjuangankan itu semua di hari ini, yang ada pejabat yang perutnya makin hari makin besar, yang hartanya makin hari makin bertambah.
Merdeka artinya bebas, tidak ada lagi kekang mengekang, jajah menjajah dalam semua aspek, okelah fisik hari ini memang kita merdeka sebab kita tidak melalui hari yang penuh perjuangan menyelamatkan nyawa seperti saudara kita di palestina, bagaimana dengan pola pikir, kehidupan, dan aspek lainnya?
Saya juga memang tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk melepas penjajahan macam itu, saya Cuma seorang gadis biasa yang terlalu banyak impian, tidak banyak gebrakan atau ide brilian yang bisa saya temukan, tapi saya berusaha menulis, sebab bagi saya menulis adalah kemerdekaan dalam bentuk lain, dengan menulis semua gelisah dan resah dalam pikiran saya tertuang semua, walaupun adakalanya isi kepala tidak bisa ditumpahkan semua, sebab kebanyakan memang sampah tidak berguna, tapi sekali lagi bagi saya menulis adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang bisa dilakukan semua orang. Setidaknya ada yang bisa saya lakukan meskipun terdengar biasa-biasa saja di 69 tahun kemerdekaan negri kita ini.
Sebab itu menulislah, melakukan apapun yang kamu suka yang membuatmu bisa bebas, bisa merdeka, jangan biarkan diri kita terkekang dengan banyak pikiran dan resah yang menggunung, negara ini sudah cukup sulit dan rumit dengan masalahnya, jadi bertingkahlah kita dengan baik untuk mengurangi warga negara yang terlihat tidak berguna, hahaha...
Apapun yang kau mau, merdekakan dirimu...



17 Agustus 2014

Merayakan kemerdekaan di ruang kecil sendirian.. 

Sabtu, 16 Agustus 2014

Hal-hal yang dilupakan pasca wisuda



Suatu momen dimana kamu merasa beban kuliahmu selama 4 tahun terlewat sudah, kurasa itulah yang pada umumnya membuat orang-orang bahagia diwisuda, walaupun sejatinya lepas beban itu buatku pribadi adalah ketika selepas sidang skripsi dan setelah disahkan lulus oleh penguji sidang, walaupun hasil yang dibuahkan masih kurang tapi saat itulah aku merasa 4 tahun kuliah berakhir begitu saja dengan diputuskannya oleh penguji sidang skripsi.
Mengapa orang-orang mengharuskan diri diwisuda, padahal tidak ada kewajiban khusus dari pihak kampus terserah mau wisuda atau tidak, tak masalah, yang terpenting gelar sudah diraih dan ya seperti itulah berjalan, berbahagia di hari wisuda, seolah-olah hari itu sudah puncak kebahagiaan dari belajar 4 tahun.
Kita lupa, kebanyakan orang-orang lupa, mengabaikan dan seolah tidak ingin tahu selepas itu banyak bahkan beban hidup bertambah rumit dan berat, harus mencari kerja, dan mencari pekerjaan itu tidak semudah membalik telapak tangan, indonesia bahkan termasuk negara yang memiliki jumlah pengangguran terbanyak, padahal setiap tahun dari satu perguruan saja bisa ribuan orang yang diwisuda, nah itulah, beban selepas wisuda justru lebih rumit, bukan hanya kesenangan saja.
Selain itu, kita juga lupa, kebanyakan orang lupa masih punya tanggungjawab yang besar pada masyarakat untuk membagikan ilmunya, mengajarkan ilmu yang sudah kita dapat selama 4 tahun di bangku kuliah, selepas wisuda masyarakat sudah menunggu kiprah kita, bukankah kita ini khalifah fil ardl sekaligus juga punya kewajiban mengajak orang berbuat baik, salah satu caranya adalah berdakwah melalui ilmu yang kita pelajari selama 4 tahun entah sains, bahasa, budaya, obat-obatan, kesehatan semuanya tetap punya kewajiban untuk berdakwah dan membagikan ilmunya pada masyarakat.
So, jangan merasa bahagia dulu, boleh dong bahagia tapi jangan melupakan ada banyak tugas, ada banyak hal yang sudah menunggu, ada banyak PR yang harus kita kerjakan, berbahagialah sewajarnya saja, seperti halnya ketika kita mengalami kesedihan, sewajarnya saja.
And then, selamat wisuda untuk sahabat-sahabat seperjuanganku, semoga ilmunya bermanfaat, berkah, dan tidak melupakan tugas kita setelah wisuda...
Congratulation, :-D




Salam hangat.
16 Agustus 2014

Membuat saya jadi mengingat kembali wisuda maret kemarin, J

Rabu, 23 Juli 2014

Pemilik hati malaikat, siapa mereka?




Tumben-tumben sekali lihat beranda fb dipenuhi ucapan selamat, kata-kata manis, puisi dan segala bentuk ekspresi untuk anak, setelah kucari tahu rupanya hari ini adalah hari anak nasional. Kok saya baru tahu?
Anak kecil, bagi saya sosok paling menggemaskan, lucu, manis, suci, hatinya bersih yeah, hatinya bersih seperti malaikat, perumpamaan ini memang sangat absurd sebab saya juga tidak tahu pasti seperti apa sosok malaikat, yang saya tahu malaikat tidak punya nafsu untuk berbuat jahat, hatinya suci, bersih ya seperti itulah anak-anak, lahir dalam keadaan suci, tanpa dosa, belum diberikan beban untuk melakukan aturan dari Tuhan, masa anak-anak adalah proses untuk bermain sekaligus belajar. Dan mereka tulus, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka katakan, itu tulus dari hati, tidak ada nafsu untuk melukai, menyakiti, semuanya tanpa pamrih, hati bersih, seperti malaikat.
Beberapa bulan tinggal di pengasingan ini membuat saya semakin mencintai anak-anak, sebab setiap hari berinteraksi dengan mereka, mengajar di kelas, bertemu dan terkadang saya pun ikut bermain dalam dunia mereka. Teman-teman bilang saya sudah cocok jadi ibulah, cocok jadi guru TK lah, cocok dengan dunia anak, sebab entah kenapa saya juga tidak tahu setiap kali melihat sosok mereka, spontanitas tanpa saya tahu sebabnya saya akan mendekati mereka, ikut bermain, dan akhirnya mereka menjadi dekat dengan saya.
Sejak dulu saya memang sudah menyukai anak-anak, setiap kali kumpul keluarga bertemu keluarga besar, berkumpul anak-anak kecil anak dari paman dan bibi, sudah dipastikan mereka akan meminta saya mengurus anak-anak, memandikanlah, suapi makan, ganti popok, me-ninabobokan, bahkan ketika bibi saya melahirkan saya ikut mendampingi dan saat bayi mungil nan lucu itu lahir saya sudah berani menggendongnya, padahal masih bau amis darah, entah saya juga tidak tahu, perasaan suka, mencintai, hal semacam itu ibarat magnet yang menarik saya untuk masuk ke dalamnya tanpa tahu apa sebabnya.
Saya sangat heran dengan para ibu yang tega membunuh anaknya, mengubur anaknya hidup-hidup, mengaborsi, menyiksa, hal-hal yang membuat saya merinding dan bertanya, apa salah mereka?, mereka tidak berdosa, kok bisa-bisanya melenyapkan sosok yang memiliki hati seperti malaikat itu. Sampai pada satu pemikiran, saya ingin sekali punya anak, tapi jangan dulu menikah, ya hanya punya anak (mustahil), yah sebab saya bukan maryam yangg diberikan Nabi Isa tanpa ayah, dan keinginan itu semakin besar hingga sekarang. Lalu mendengar berita-berita anak-anak kecil di palestina banyak yang hidup tanpa ayah dan ibu, saya jadi ingin mengambil barang satu atau dua diantara sosok pemilik hati malaikat itu untuk jadi anak saya.
Namun, rupa-rupanya keinginan itu menjadi samar, sebab saya lupa diri bagaimanalah bisa membesarkan generasi-generasi yang soleh dan solehah, mendidik anak dengan baik, sementara saya saat ini pun masih begini, masih penuh dengan keburukan.
Wahai para pemilik hati malaikat, selamat sudah terlahir ke dunia, bersiaplah menghadapi hidup yang semakin hari semakin keras ini, tapi jangan pernah takut meminta perlindunganlah selalu padaNya, sebab hanya Dia yang mampu membuat kita bisa bertahan di dunia yang kejam ini.
Selamat hari anak...
Love you always, :-*



23 juli 2014
Pakpayoon, Phattalung.


Rabu, 09 Juli 2014

Batuk kodok, gadis keras kepala dan seorang ibu tua, :)



Malam ini saya merasa amat terharu, saat shalat tarawih, saya berada diantara dua orang ibu tua, yang disebelah kanan seorang ibu setengah baya, saya taksir usianya hampir seusia nenek saya, dan sebelah kiri saya seorang ibu yang sudah sangat tua, ya kira-kira seusia ibunya nenek saya mungkin.
Akhir-akhir ini penyakit batuk “kodok” saya kambuh lagi, entah sebab apa, tapi mungkin yeah makanan pedas dan es yang tidak pernah saya tinggalkan, mau gimana lagi keduanya udah jadi bagian penting dalam hidup (hayaah, gaya), saya memang keras kepala sejak dulu dilarang makan pedas dan es masih saja malah makin menggila semenjak disini, jadi mungkin karena itulah batuk “kodok” kambuh lagi.
Nah, ketika sholat tarawih tadi sepanjang sholat batuk saya tak mau berhenti, saya pun merasa kesal sendiri, sudah ditahan-tahan tapi tetap saja keluar, saya merasa kurang enak pada jama’ah terutama dua orang ibu disamping saya, sampai akhirnya momen yang bikin terharu itu terjadi, selesai sholat ibu yang saya taksir seusia nenek saya tiba-tiba memegang pundak saya, ia bicara yang saya tidak mengerti, mungkin dia ingin tanya apa saya sakit? (Cuma perkiraan aja si), dan dengan seketika ibu tadi meminta pada ibu yang lain semacam minyak angin yang rasanya hangat dikulit tapi baunya bikin mual, ibu tadi membuka minyaknya dan ternyata dia meminta saya memakai minyak itu di leher, dada dan hidung, meski saya merasa tak suka mencium baunya tapi tak enak hati akhirnya saya pakailah minyak tadi, dan memang rasanya panas sekali di kulit tapi lumayan batuk saya sedikit berkurang.
Sepanjang perjalanan pulang dari masjid, saya jadi ingat nenek, sosok yang sering merawat saya kalau sakit, membuatkan obat-obat tradisional ala orang zaman dulu tapi terbukti manjur, sebab saya pernah mencobanya. Saya jadi ingat nenek, yang saat saya sakit, beliau memijat pundak dan melumuri tubuh saya minyak hangat, seseorang yang saya cintai dan selalu memberi banyak nasehat pada saya soal kehidupan dan kerasnya hidup.
Bagaimana kabarmu nek?
Usianya memang sudah cukup tua tapi beliau masih sehat dan kuat melakukan pekerjaan rumah tangga, walaupun kadang-kadang kakinya mendadak sakit dan susah berjalan tapi beliau masih rajin ke masjid dan membaca Qur’an setiap hari. Impian beliau yang belum kesampaian adalah ke mekkah, semoga tahun ini bisa pergi kesana dan beliau selalu diberi kesehatan dan kemudahan, Amin.
Terimakasih untuk ibu yang baik hati, dan untuk nenek yang jauh disana, semoga baik-baik saja, J




09 Juli 2014

Pakpayoon, Pathalung. 

Minggu, 15 Juni 2014

Hal-hal manis di pengasingan


Berawal dari kesukaan yang sedikit menyiksa, aku suka makanan pedas, pokoknya apapun kalau rasanya pedes itu emas segunung pun kalah dilirik deh, jiaah alay beud, hihi... berkali-kali diingatkan juga gak mempan, mau berhenti kalau rasa pedes udah punah di muka bumi, #loh...
Sejak kemarin aku makan selalu pedas, entah bumbunya, entah sayurnya, entah sambelnya, yang jelas setiap menu di hari kemarin itu serba cabe, dan itu gak sekedar hot gitu aja, pake beud sampe makan pun keringatan dan bikin emosi, tapi tetep aja gak mau berhenti.. #dasar susah dibilangin.
Sampe akhirnya malamnya kena dampaknya, akibat menyepelekan, merasa tidak kasihan dengan lambung sendiri, malam pun mulai terasa sakit di perut, mulanya sekali ke kamar mandi, sampai akhirnya 3 kali dan juga tidak bisa tidur, apalagi kalau bukan karena ulah makan pedas yang gak tahu aturan.
Esok paginya, merasa sudah sedikit membaik, akhirnya sarapan pagi dengan bumbu yang lumayanlah untuk lambung, hehe dan masyaAllah akhirnya ke kamar mandi bolak balik sampe 3 kali ujung2nya ngajar pun berhenti, perut sakit banget dan badan jadi lemas, yah ini akibat, ini resiko yang harus aku tanggung. Karena sakit banget ini perut akhirnya aku sempatkan diri ke klinik sekolah, tapi dalam hati pun masih bingung gimana ngomongnya mau minta obat diare.
Benar saja, aku pegang perut dengan wajah meringis, setidaknya isyarat karena penjaga klinik pun tak mengerti bahasa inggris, dia ambil obat di lemari dan diberikanlah aku obat untuk sakit menstruasi. Sudah kuduga pasti dikasihnya ini. Aku bilang bukan, dia ambilkan lagi obat, karena khawatir salah, kubawa obat itu dan bertanya pada salah satu guru yang bisa bahasa melayu, akhirnya guru itu pun mengantarku ke klinik, dan ternyata obat yang kumaksud tidak ada. Apotek jauh, setidaknya untuk berjalan kaki cukup jauh. Dengan baik hatinya penjaga klinik pergi membelikan aku obat ke apotek.


Bukan itu yang penting untuk kusampaikan, tapi ada hal-hal yang terkadang kita lupakan terutama saat kita berada jauh dari keluarga, dari orang-orang dekat, apalagi beda negara, yang harus diingat oleh kita adalah berbuat baik selalu pada orang lain, siapa lagi yang akan membantu kita selain orang yang kita kenal di tempat asing, entah sodara seiman, sodara setanah air, atau sodara yang bisa mengikat hubungan menjadi erat dan akrab.
Itulah bahagianya merantau, akan banyak bertemu orang-orang baik, sesama muslim saling menolong, bertemu orang-orang asing yang mau membantu kita dalam keadaan sulit. Tidak ada keluarga tapi mereka bisa menjadi keluarga baru untuk kita, tidak ada teman, mereka bisa menjadi teman baru untuk kita, sampai akhirnya kita tahu bahwa di belahan dunia manapun ikatan ukhuwah seorang muslim dengan muslim lainnya teramat kuat... seperti sebuah bangunan saling menguatkan satu sama lain...
Pagi yang indah, semoga esok dan seterusnya aku selalu diberikan kesehatan agar bisa selalu berbuat baik untuk orang lain.

17 Juni 2014

Parkpayoon, Patthalung.